0
Notification
Update Novel Setiap Hari, Pukul 10.00

Loading...
Home  ›  Chapter  ›  Gending Alas Mayit

Gending Alas Mayit Chapter Epilog

"Gending Alas Mayit Chapter Epilog"

Gending Alas Mayit - Epilog

EPILOG

“ Radio tengah malam , masih bersama saya Ardian penyiar favorit kalian..


Ada kabar baik nih dari temen kita yang bernama Cahyo, kabarnya dia sudah berhasil menyelesaikan permasalahan kutukan Gending Alas Mayit.. 


Selamat ya buat kalian dan desa windualit , Kalian memang orang-orang hebat!


Oke.. karna sudah tiga cerita kita bacain , saatnya kita pamit, selamat beristirahat, radio tengah malam undur diri…”


“Oke bungkus!” Teriak Dika dari luar ruangan. 


Secangkir kopi sudah disiapkan oleh Dika di ruang tunggu .


“Lu emang partner terbaik Dik , hujan-hujan gini emang paling enak ngopi” Ucapku pada Dika yang hanya dibalas dengan jempol di tanganya.


Aku menyeruput kopi buatan Dika dan merebahkan tubuhku di sofa. 


Namun aku merasa ada yang aneh. Sayup sayup terdengar suara gamelan mengalun di ruangan ini.


“ Dik.. Dika! Kamu denger itu ga?” ucapku pada Dika


“Denger apaan? Gw masih ngebuat playlist nih…. “ Jawab Dika dengan santai. 


“ I… Itu… ada suara gamelan “ Aku menghampiri Dika dan membuka headsetnya.


Ia berdiri menghampiri jendela dan menajamkan telinganya.


“ Oooh… itu di komplek sebelah lagi ada hajatan , katanya nanggep wayang kulit.. kita juga diundang kok , tuh undanganya” 


Ucap Dika sambil menunjukan undangan yang tergeletak di meja.


“ owalah , gua kira itu kutukan masih nyangkut di kita… “ lanjutku yang segera melanjutkan menyeruput kopi sekali lagi.


Setelahnya kami hanya sibuk dengan kesibukan masing masih sebelum bersiap untuk pulang.


Namun tak seperti biasanya suara pintu diketuk dengan lambat…


“Dik ada yang ketok pintu? “Tanyaku pada Dika.


“Iya kayaknya… lu bukain dulu dah, gua dikit lagi selesai “ perintah Dika padaku. 


“ wokey.. lu kelarin aja dulu” aku segera berdiri dari sofa dan mencoba mendekati pintu. Namun lampu tiba-tiba berkedip dengan tidak wajar dan angin dingin berhembus di leherku.


“… Jangan dibuka… “ Suara berbisik terdengar dari belakang punggungku. 


Aku tidak menghiraukan,namun kedipan lampu menjadi semakin cepat dan mengerikan. Saat langkah kakiku mendekat menuju pintu , muncull sesosok makhluk pria seumuranku dengan wajah yang hancur.. 


Itu hantu nandar , seharusnya ia tidak akan muncul bila aku tidak menyalakan korek dari paklek…


Aku heran dengan apa yang terjadi , Hantu nandar hanya menatapku dan kali ini berbicara dengan berteriak di hadapan wajahku


“ JANGAN DIBUKA!!!”


(Tamat)

Serial
Teknik Mesin
Kami percaya pendidikan berkualitas adalah hak setiap anak Indonesia.
Post a Comment
Search
Menu
Theme
Share
Additional JS