Gadis Kretek Chapter 2: Klobot Djagad
"Novel Gadis Kretek ditulis Ratih Kumala dan diterbitkan tahun 2012 mengangkat budaya Jawa, terutama tentang sejarah awal pabrik kretek di Indonesia."
![]() |
| Gadis Kretek Chapter 2: Sigaret Kretek Djagad Raja |
Gadis Kretek Chapter 2: Sigaret Kretek Djagad Raja
Lelaki yang ingin menembak sasaran lebih cepat dari pada bayangannya sendiri itu kini harus mengalah sejenak, mengingat dia betul-betul buta Cirebon. Diteleponnya Erik, teman lamanya di Amerika, tetapi tak ada yang mengangkat. Seolah ponsel Erik tak bertuan. Tiba-tiba suara musik lenyap, Lebas kaget. Dia memeriksa iPod-nya.
’’Sial!” Batereny’a habis. Dinyalakannya radio, terdengar suara penyiar yang renyah.Ia teringat: sudah lama dirinya lupa hari dan tanggal. Ya, ini adalah risiko jadi pekerja freelance (untuk tidak menyebut dirinya ’pengangguran’).
Ponsel Lebas berbunyi, nama ’Erik’ tertera di situ. Lebas mematikan radio dan dengan gembira diangkatnya telepon itu.
”Ya Ampuuun... sibuk abis lu ya! Gue udah di Cirebon nih, alamat lu di mana?” Di ujung sana, Erik terkekeh puas mendengar berita Lebas di Cirebon, tak menyangka Lebas akan benar-benar datang menemuinya, berkunjung ke kotanya. Erik memberikan ancer-ancer Rumah Rasta, demikian ia menyebut tempat tinggalnya.
Ketika akhimva tiba di Rumah Rasta, sebuah studio indie yang didirikan oleh Erik, seorang teman kuliah Lebas di San Francisco, Lebas mengempaskan tubuhnya di kasur busa yang sudah tipis terletak di pojok studio.
"Kasurmu ini tipis banget, tinggal digoreng jadi deh tahu sumedang,” komentar Lebas sambil mengeluarkan satu karton rokok keretek Djagad Raja. Erik nyengir menerima oleh-oleh yang tak asing lagi itu.
"Biarlah man, biar musisi yang datang kemari benar- benar ingin bermusik, bukan cuma buat numpang tidur!” lalu Erik tertawa. Lelaki sepantaran Lebas itu menggaruk-garuk rambut gimbalnya. Sebuah topi rajut berwarna kuning- merah-hijau menutupi rambutnya yang makin panjang.
Erik adalah kakak kelas Lebas, yang sudah sejak awal masuk jurusan musik. Lebas kadang kesulitan memahami jalan pikiran Erik. Pemuda itu memang eksentrik. Ia lulusan San Fransisco, tapi lebih memilih menetap di Cirebon, kota yang tak menjanjikan apa-apa pada karier musik. Kalau mau, Erik sebetulnya bisa tinggal di Jakarta.
Sebab dengan kemampuan musik dan keluarganya yang cukup mapan, tentu di Jakarta Erik akan melesat jauh. Erik keranjingan Bob Marley sejak berkunjung ke Jamaika ketika kuliah dulu.
Awalnya, Lebas kuliah di jurusan bisnis, seperti perintah romonya. Satu tahun ia di San Fransisco untuk belajar bisnis, tapi kemudian tersadar benar itu bukan panggilan jiwanya. Maka diam-diam Lebas pindah ke jurusan perfilman. Ketika Romo akhirnya tahu, dia mengoyak-ngoyak surat wasiat yang berisi pembagian warisan keluarga.
yang berisi pembagian warisan keluarga. Semua penghuni rumah ketika itu hening melihat Romo murka.Tiga bulan Romo tak berbicara pada Lebas, pemuda itu berusaha se mampunya untuk membujuk ayahnya, tapi dia tetap meng anggap Lebas tak ada. Hingga pagi itu, Romo lumpuh separuh karena stroke. Ibu bilang, pagi itu Ibu tak sengaja bilang kalau Lebas akan menjadi asisten sutradara magang untuk sebuah pembuatan film indie. Romo menyumpah- nyumpah, lalu seraya... Malaikat Maut datang mengambil separuh nyawanya. Setelah itu, keadaan membaik, meski kesehatan Romo tidak baik. Romo memaafkan Lebas.Me- nurutnya (yang diucapkan dengan cadel dan terbata-bata), memaafkan adalah salah satu obat yang paling mujarab untuk sakitnya. Dia sadar betul Lebas adalah alasan dia terserang stroke. Dua hari kemudian seorang pengacara datang dan membuatkannya selembar surat wasiat terbaru, nama Lebas kembali tercantum di situ.
Ketika Lebas memutuskan untuk pindah jurusan seni musik karena merasa perfilman tidak cocok lagi dengan jiwanya, Lebas tak bilang siapa-siapa. Ketika itu, Lebas (yang satu-satunya anak jurusan perfilman) diajak serta, bersama tiga orang teman kulit putih lainnya, teman sejurusan Erik di seni musik. Mereka ditugasi mengaransemen ulang lagu musisi tertentu. Dosen menvmruh mereka untuk mendalami musisi pilihan mereka, mengenal lebih jauh kepribadian dan musik ciptaannya. Sepulang dari Jamaika, Lebas yang awalnya cuma ikut-ikutan merasa dapat pencerahan dari lirik lagu-lagu Bob Marley.
Ia mengubah rambutnya jadi gimbal. Lalu suatu malam ketika sedang main gitar dan bernyanyi lagu ’Redemption Song”, Lebas seperti kejatuh an inspirasi: ia ingin jadi musisi! Ajaran baru mulai lagi, tiba-tiba Lebas sudah berada di kelas musik bersama sepe rangkat perkusi.Ia meninggalkan panggung, kostum, serta naskah tebal yang harus dihapal.
Delapan bulan Lebas jadi pengikut Bob Marley, sampai akhirnya kutu rambut menganggap gimbalnya adalah tempat yang nyaman untuk bersarang. Ia garuk-garuk kepala dan mendapati dua ekor kutu terselip di kukunya. Seekor meloncat kembali ke kepala Lebas, seekor lagi dengan garang dipitasnva dengan kuku jempol. Darah muncrat.
Lebas berteriak, gemas bercampur kesal. Kutu- kutu itu mengisap darah kepalanya! Pantas dia merasa lebih bodoh akhir-akhir ini, tentu saja selain karena marijuana yang kebanyakan diisapnya pula. Lebas memutuskan untuk mencukur habis rambutnya. Dia berubah jadi plontos dan kalap membuang semua aksesoris Bob Marley-nya. Untung ketika Karim datang berkunjung rambut Lebas sudah tumbuh normal lagi, satu-satunya yang tersisa dari masa-masa Bob Marley wannabe adalah sebuah poster Bob Marley dengan pose tenarnya yang klasik: sedang mengisap marijuana.
Karim, kakak keduanya yang sedang ada urusan di Amerika, melihat dengan mata kepala sendiri bahwa di flat mungil adiknya tersedia alat musik lengkap yang dibeli dengan murah di pasar loak. Jadilah, Lebas terpaksa mengaku sudah tidak di jurusan perfilman lagi.Karim pusing harus bagaimana ketika Lebas memohon untuk tak bilang siapa- siapa. Tapi ternyata Karim bilang ke Tegar, putra sulung kelurga, yang kemudian lapor ke Ibu yang kemudian lapor ke Romo. Ya, begitulah ular-ularannya, dan diakhiri dengan Romo menelepon Lebas, suaranya terbata-bata karena cadel stroke.
[-]
"Romo ndak marah. Tapi, kalau kamu pindah jurusan lagi, Romo akan berhenti ngasih kamu uang jajan dan ndak akan Romo biayai kuliah lagi!”
Demikianlah, akhirnya Lebas bersusah payah menyelesaikan kuliah meski sebenarnya juga sudah bosan dengan jurusan seni musik. Semenjak insiden kutu rambut itu, Lebas mulai enggan dengan jurusan musik. Ilingga seorang gadis bernama Danish, berambut hazelnut seperti warna matanya, datang mengetuk hati Lebas. Ia memperkenalkan dunia periklanan yang mampu menyulap produk dan jasa menjadi sedemikian ajaib untuk konsumen. Lebas pun mengambil kursus fotografi demi gadis itu. Lalu berniat pindah jurusan di tahun ajaran baru selanjutnya. N iat itu urung mengingat pesan Romo yang tak akan membiayai biaya kuliah dan hidupnya selama di Amerika itu tadi. Lebas terjebak di jurusan musik. Awalnya Lebas kecewa, dan lebih memilih bolos.
Hari-harinya diisi dengan menemani Danish ke mana-mana, bahkan ketika ada kelas pun, Lebas dengan setia menungguinya. Hingga suatu hari, Danish mematahkan hati Lebas dengan alasan pemuda itu terlalu posesif dan tak me mikirkan masa depan. Lebas sempat berusaha membujuk Danish dengan berkata bahwa di Indonesia dia adalah anak orang kaya pemilik pabrik rokok, jadi soal masa depan tak perlu dikhawatirkan. Akhirnya, Danish mengaku sudah pacaran dengan dosennya yang telah beristri.
Dengan amarah meledak-ledak, Lebas menyalakan musik keras- keras, lagu punk rock alternatif yang vokalisnya lebih cocok dibilang berteriak dan menggeram ketimbang bernyanyi. Album itu didapatnya dari sebuh pesta yang mengundang band yang konon memuja setan tersebut. Sejak itu, Lebas masuk kuliah lagi, belajar musik lagi, hingga ia lulus meski tersendat-sendat.
Erik adalah satu-satunya (dari lima orang yang dulu ke Jamaika) yang masih bertahan dengan aliran Bob Marley. Selain aksesoris dan dandanan ala Bob Marley, setiap malam ia tidur diiringi Bob Marley, membuat lagu dengan musik beraliran Bob Marley, dan-percaya tak pcrcaya-wajah Erik pun bermutasi menjadi mirip Bob Marley.
"Ada angin apa kau kemari, man?” tanya Erik dengan gaya bicara yang khas kejamaika-jamaikaan. Dia memanggil semua orang yang dekat dengannya dengan sebutan ’man’, yang benar-benar dilafalkan ’man’, bukan ’men’ seperti pengucapan dalam Bahasa Inggris. Lalu, Lebas menjelaskan maksud kedatangannya, memintanya bergabung untuk menyukseskan film idamannya. Dijelaskan bahwa dirinya tak punya banyak uang, jadi mungkin bayarannya minim, syukur-syukur bisa gratisan. Erik tertawa mendengar ucapan Lebas.
”Man, kau pikir aku bodoh... mana mungkin kau tak punya uang!”
”Ini serius. Kakakku enggak mau nyeponsori filmku,” Lebas berkata dengan wajah kecewa.
Erik tertawa lagi, memegang pundak Lebas, ”Tak masalah. Aku bisa kerjakan scorring musikmu. It's for our brother hood, rite ma-manV' Lebas tersenyum. Dia tahu, dirinya selalu bisa mengandalkan Erik.
Semakin malam, Rumah Rasta seperti jebakan lalat yang lengket. Mulai banyak yang datang, terutama karena Erik menelepon teman-temannya untuk memberi iming- iming bahwa Lebas membawa berslot-slot Kretek Djagad Raja. Beberapa pemuda dengan wajah bermutasi mirip Bob Marley bermain akustik lagu ”N o Woman, N o C ry”.
...Good time we've had, and good time we've lost, along the way.... In this bright future, you can't forget your past. So dry your teats I say....
Bahkan suara Erik pun mirip suara Bob Marley, pikir Lebas.
Satu pak Kretek Djagad Raja yang Lebas bawa sebagai oleh-oleh sudah dibongkar lintingannya. Para Bob Marley- er mencampurnya dengan ganja dan melinting ulang dengan papier yang sengaja mereka bawa. Ruang studio Rumah Rasta dipenuhi asap. Semua mulai nyengir kuda. Beberapa linting Djagad Raja plus ganja itu berputar dari mulut ke mulut.
Mereka semua mengisap marijuana plus Djagad Raja dengan ekspresi sama: ekspresi Bob Marley di poster milik Lebas dulu.
Erik tiba-tiba teringat sesuatu, ”Aku punya sesuatu buat mu, man.” Erik membuka laci. Satu pak kretek diberikannya pada Lebas.
’’Ngapain kamu ngasih aku Kretek Djagad Raja? Tuh,
aku punya banyak.” Erik menggeleng-geleng, memungut kembali kretek yang diempaskan Lebas.
”No, no... kau lihat dulu dengan cermat, man. Itu bukan Djagad Raja. Itu Jagat Raya!” Lebas mengerutkan kening, tak mengerti. Lalu, Erik menunjuk tulisan merek di kretek yang memang sama persis dengan Djagad Raja. Betul saja, tulisannya Jagat Raya! Lebas tertawa. "See...?”Erik terlihat senang melihat tawa Lebas. ’’Sengaja aku beli, nemu di sebuah warung!”
Bukan rahasia lagi, ada beberapa kretek yang merajai pasar yang lantas ditiru oleh produsen kretek lain. Mereka tak sekadar meniru kemasan, tapi juga meniru rasanya.Kali ini, Lebas harus kagum, sebab demikian gigih kretek yang satu ini meniru kemasannya. Bagaimana dengan rasanya? Lebas mengambil sebatang kretek Jagat Raya dan menyulutnya dengan pemantik.
[-]
’’Rasanya beda sama Djagad Raja.”
”KW 12, ya? Ha ha ha...!” komentar Erik.
Ya, seperti barang tiruan bermerek, biasa disebut sebagai K W dan diikuti angka. Semakin besar angkanya, semakin kelihatan palsunya.
Tegar marah-marah di pinggir jalan, ponselnya sejak tadi menempel di kuping, tapi orang yang ditelepon tak kunjung mengangkat panggilannya. Ia baru saja turun dari travel Jakarta-Cirebon. Supir travel sempat menawarinya untuk diantarkan ke tempat tujuan, tapi Tegar lebih memi lih diantar hingga pool saja. Di awal perjalanannya ke Cire bon, ia berpikir hendak menelepon Lebas dan minta dijem put agar mereka tinggal di hotel yang sama, sebab ia tahu betul akhir pekan begini tidak mungkin dapat hotel. Tapi sudah lebih dari setengah jam teleponnya tak diangkat juga. Mobil travel pengantar para penumpang dalam kota baru saja keluar, dan sudah penuh. Mobil itu mandeg antri macet tepat di depan Tegar. Supirnya yang tadi menawar kan mengangguk ramah padanya, Tegar berusaha terse nyum sambil terus menelepon Lebas.
Setengah jam kemu dian sebuah taksi kosong tersendat-sendat maju di antara kemacetan. Tegar masuk, ia menghirup aroma taksi nan asam, bau taksi tak pernah dibersihkan bercampur bau badan si supir yang sepertinya tak mengganti seragam berhari-hari. Tegar meminta supir untuk mengantarnya ke sebuah hotel, hotel apa saja, yang penting ada kamar. Entar karena bodoh atau sengaja agar argo banyak, supir itu mengantar Tegar ke Jalan Cipto,salah satu jalan paling sibuk se-Cirebon di kala akhir pekan. Sesampai di hotel, Tegar terus mencoba menghubungi adiknya dengan sia-sia.
Ia tak khawatir seperti orang kebanyakan yang kalau menelepon tak diangkat, mengira ada hal-hal buruk akan terjadi pada orang yang dimaksud. Tegar tahu betul kelakuan adiknya yang seenaknya, dia mungkin sedang party di sebuah kelab malam dan sengaja meninggalkan ponselnya di hotel, pikir Tegar. Kemarahan Tegar sudah sampai ubun-ubun.Untung dirinya memutuskan untuk menyusul, pikirnya, kalau tidak urusan Jeng Yah pasti tak jelas juntrungannya. Menyerah, Tegar memutuskan untuk tidur dulu demi meredam ama rahnya.
Pagi berganti, Tegar masih berusaha menghubungi Lebas. Kali ini diangkat, suara parau Lebas yang baru ba ngun tidur menyahut ’halo’ di ujung ponsel.
’’Kamu ke mana aja? Ditelepon ndak diangkat! Semale- man aku nyariin kamu! Ini aku sudah di Cirebon!
”Hah?! Romo meninggal?!” Lebas kaget.
”Romo meninggal, Romo meninggal, mbahmu! Mau nyumpahin orangtua sendiri biar cepat mati, ya? Makanya kalau ditelepon itu diangkat. Ke mana aja kamu semalaman?”
”Aku di studio musik teman.”
’’Hotelmu di mana? Aku ke situ sekarang!”
’Mas, aku enggak tinggal di hotel. Aku semalaman di studio musik teman.”
”Terus, gimana tidurnya?”
”Ya udah, tidur aja... banyak tempat buat tidur kok di studio ini.”
”Ya ampun. Bas, Bas... kamu itu sudah umur berapa?
Hidupmu masih saja sembarangan.” Tegar tak habis pikir dengan gaya hidup adiknya yang serampangan. Jika bukan dari keluarga Soeraja, pemilik pabrik rokok Kretek Djagad
Raja, pasti Lebas sudah jadi anak bermasa depan suram.
[-]
Tegar memutuskan menjemput adiknya dengan taksi meski ia tak tahu letak Rumah Rasta. Lebas memberikan ponsel- nya pada Erik yang menjelaskan ancer-ancer Rumah Rasta dengan campuran Bahasa Indonesia dan ’Bahasa Bob Marley’. Tegar coba memahami ucapan Erik. Bagi Tegar, lebih baik demikian daripada ia harus menunggu Lebas men datanginya. Bisa-bisa tiga hari berlalu dan Lebas belum juga tiba di hotel, pikir Tegar. Ketika sampai, ia mendapati Lebas belum mandi dan bertampang kucel, tertidur di kasur tahu sumedang di pojok studio. Tegar mengendus tubuh Lebas.
’’Kamu ngerokok ya?” Tegar mirip polisi yang sedang menginterogasi.
”Lah, aku kan memang merokok.”
"Maksudku, kamu ngisep ganja ya?” Lebas diam saja. Bagi kakaknya, itu berarti mengivakan. ’’Mandi! Ganti baju! Sekarang juga kita ke Kudus.”
’Kita?”
”Iya, kita!”
lak lama, Lebas mendapati dirinya duduk bersebelahan dengan Tegar yang masih kesal sedang menyetir mobil. Ia tak diizinkan menyetir mobil, sebab Tegar tak yakin adiknya sudah benar-benar waras, tak lagi mabuk.
Ia menyuruh Lebas meninggalkan semua barang yang dibawanya masuk ke dalam Rumah Rasta, dengan alasan tak mau tiba-tiba bertemu polisi yang kemudian mencium bau marijuana di mobil mereka. Bisa-bisa bukannya mengurus urusan Romo, malah ribet dengan urusan hotel prodeo. Sebelum berang kat, Tegar bahkan mampir ke tempat pencucian mobil, menyuruh petugas mem-zmeum cleaner seluruh mobil dan membayar tips lumayan. Setelah itu, mereka mampir ke sebuah toko pakaian untuk membeli baju-baju baru untuk Lebas, termasuk celana dalam.
’’Padahal aku suka sekali sama jaket jins itu!” Lebas me ngeluh karena harus meninggalkan jaket kucelnya di Rumah Rasta.
’Sudah seumur gini masih saja ngawur!” omel Tegar,
’’Seharusnya aku sudah lepas tangan dari dulu. Ndak ngurus bayi gede lagi.”
”Aku juga enggak minta diurus kok.”
’’Bocah ndak tahu diuntung!”
”Aku bukan bocah,” bela Lebas masih kesal.
”Ya kalo bukan bocah, buktikan! Jangan bikin bingung semua orang.”
Tiba-tiba Lebas terkekeh kecil, Tegar sewot, ”eh... dikasih tau malah ketawa!”
’’Habisnya Alas Tegar lama-lama cerewetnya mirip emak-emak. Mirip Ibu.”
Tegar melengos, Lebas telah mengunci mulut Tegar dengan sukses.
Tegar menstarter mobil, menyuruh Lebas mengenakan seat-belt. Dimulailah perjalanan koboi yang tak lagi poor and lonesome.
Lebas memandangi kakaknya yang serius menyetir mobil. Dia memang selalu serius, dari dulu bahkan sampai usia segini. Sejak kecil, Tegar sudah diajak Romo ke pabrik, diajarkan melinting, diajarkan cara mengawasi para pekerja, bahkan diajarkan merokok. Coba, orangtua mana yang dengan sengaja mengajarkan anaknya merokok. Ketika itu. Tegar lulus SMP. Romo memberinya sebatang rokok kretek cap Djagad Raja yang sengaja dilintingnya sendiri, lalu mengajarkan cara merokok.
Romo juga menyiapkan bermacam-macam rokok e lain. Dia menyuruh Tegar kecil untuk mencecap rasa rokok-rokok itu. Lidah Tegar tahu benar, mana rokok yrang enak dan y’ang tidak. Meski secara pribadi, Lebas berpendapat yang namanya rasa enak itu berbanding lurus dengan selera. Tapi lidah masnya, Tegar, sudah terlanjur dilatih, bahwa rasa yang gurih dan nikmat itu adalah rasa rokok cap Djagad Raja. Lain tidak.
Pada saat lulus SMA, Tegar diberi tahu sebuah rahasia besar keluarga: saus. Ya, saus, alias resep rahasia terpenting pada rokok kretek selain tembakau dan cengkeh. Saus adalah kunci yang membedakan rasa rokok kretek yang satu dengan y’ang lain. Saus itu ibarat nyawa sebuah pabrik rokok. Lebas dan Karim bahkan tak mengetahui rahasia saus rokok cap Djagad Raja.
Konon, setahu Lebas dan Karim y’ang menduga-duga sendiri dan akhirnya mempercayai praduga mereka, Tegar telah disumpah oleh Romo untuk tak memberitahukannya pada siapa pun, termasuk kepada dua saudara kandungnya itu. Saus harus disimpan rapat- rapat rahasia campuran bahannya. Dan konon, Tegar bah kan menandatangani sebuah surat kontrak perjanjian de ngan Romo di atas selembar kertas segel: bahwa dia takkan pernah membocorkan rahasia saus.
[-]
”Aku curiga,” ujar Lebas pada suatu hari ketika menduga-duga bersama dengan Karim, ’’keliatannya sebenarnya Mas Tegar juga disumpah pocong untuk yang satu ini! Gimana enggak, Mas Tegar itu tipe orang yang sering kelepasan kalau ngomong, tahu-tahu rahasia orang terbongkar. Tapi dia gak pernah sekali pun kelepasan ngomongin rahasia bahan saus.”
Tegar tak pernah bisa mendefinisikan ’gurih’ dengan benar. Baginya, gurih adalah gabungan antara asin dan manis yang pas, yang datangnya tidak hanya dari dua ba- han-garam dan gula-, tetapi dari bahan-baham lain yang mengandung rasa itu, dan jika dirasakan akan sedikit mem buat haus. Itu gurih versi Tegar. Tapi versi Romo beda lagi. Gurih itu rasa puas yang membuat orang lain merasa cukup dengan yang itu saja, tak perlu mencoba yang lain, sehingga nantinya akan kembali lagi untuk mencicip rasa gurih itu. Marketing sekali pikiran Romo, pikir Tegar ketika Romo menjabarkan definisi ’gurih’ versinya.
Ketika itu Tegar lulus SMP dan keluarga Soeraja masih tinggal di Kudus. Tegar baru menunjukkan rapor SMP- nya pada Ibu. Romo memanggil Tegar dan menyuruhnya mencicipi rokok kretek yang baru dilintingnya sendiri. Tegar terpaku di hadapan sebungkus rokok itu. Romo menjorokkan rokok dari bungkusnya, menyuruh bocah yang belum genap berusia 16 tahun itu menarik sebatang. Tegar ragu, Romo mengangguk, meyakinkannya, kini rokok itu sudah berada di tangan Tegar. Romo juga mengambil sebatang. Ia menyalakan pemantik dan menyedot rokok itu. Asap keluar dari mulut dan hidungnya. Tegar terus mengamatinya.
Lalu Romo menyalakan pemantik lagi dan menyodorkannya pada Tegar remaja.Ragu, tapi akhirnya Tegar nyalakan juga rokok itu. Diisapnya sekali. Kretek- kretek... terdengar bunyi cengkeh terbakar di dalam batang rokok itu.Bocah itu terbatuk. Romo tertawa, dan menepuk- nepuk pundak putranya.
’Habiskan!” ujarnya, ”itu kulinting sendiri khusus buat mu.” Tegar berusaha menikmati rokok itu. Sejujurnya, meski Tegar tahu teman-temannya mulai mencoba-coba merokok, tapi Tegar sendiri belum pernah merokok. Kadang-kadang, teman-teman di sekolah memintanya untuk membawakan beberapa batang rokok dari pabrik. Demi solidaritas, dan lagi pula takkan ketahuan jika ia mencuri empat atau lima batang rokok yang baru selesai dilinting, maka Tegar pun bersedia membawakan mereka rokok.
Tegar tahu, cepat atau lambat ia pasti akan dibebani kepengurusan pabrik rokok keluarga Soeraja. Hanya saja, ia tak menyangka kalau akan selekas ini. Sejatinya, Tegar masih ingin merasakan apa yang harus dialami teman- teman sebayanya: mencuri-curi sebatang rokok dari ayah nya karena takut ketahuan. Lalu merokok di belakang seko lah, di udara terbuka.
Di mana asap dan aroma bakaran tembakau bisa disamarkan agar guru tidak mampu mencium jejaknya. Tapi tidak jika Romo menyuruhnya merokok di depannya, dilintingkan, disodorkan, dipantikkan pula apinya, dan akhirnya disuruh menghabiskannya.
’’Kamu tahu kalau kamu itu orang yang beruntung, Gar?” Romo berbicara di antara asap yang mengepul. Wajah Romo serius sekali. ”Kalau kamu mau, kamu bisa ngerokok sampai keblinger. Orang lain harus cari duit dulu biar bisa beli rokok. Tapi kamu ndak.” Tegar diam, mendengarkan Romo. Dia tahu sedang diwejang. Mungkin karena Tegar sudah lulus SMP, sudah dianggap dewasa. "Nanti, kalau kamu sudah lulus kuliah, kamu ndak perlu mikir soal cari kerja, tinggal kamu ngurus baik-baik ini pabrik. Orang lain masih harus keliling cari kerjaan, upahnya ndak seberapa. Pokoknya hidupmu bakal enak, kalau kamu bisa ngurus pabrik ini baik-baik.”
[-]
Setelah itu, Romo mengajak Tegar keliling pabrik. Ini agak aneh, sebab sejak kecil sudah kenyang dijelajahinya semua sudut pabrik. Tegar mengenali setiap lekuknya, bahkan ia tahu jumlah dedemit yang berdiam di pohon asem tempat pegawai biasa menyandarkan sepedanya onthelnya.
Romo memperkenalkan pada Tegar satu per satu pegawai yang ada, mulai dari kursi manajerial hingga buruh giling yang tugasnya melinting, dan buruh bathil yang tugasnya merapikan ujung pangkal kretek. Agak konyol sebenarnya, sebab mereka kerap melihat Tegar di antara mereka dan ia sendiri sudah mengenal beberapa dari mereka.
”Kok kenalan lagi, Gar? Lali jenengku, yo?” Kelakar se orang pegawai. Romo hanya tersenyum mendengarnya, Te gar diam saja.
’’Suatu hari, orang-orang itu akan menjadi tanggungan- mu, Gar. Kamu harus bisa menjual kretekmu untuk mem beri mereka upah. Kamu harus bisa menyediakan fasilitas kesehatan untuk mereka, kamu juga harus membayar TH R setiap hari raya tiba, yangberarti kamu mengeluarkan dua kali dari gaji biasanya. Mereka adalah tanggunganmu, Gar. Seistri-istrinva, sesuami-suaminva, seanak-anaknva.” Hati Tegar mencelos mendengar beban begitu besar mulai dipin dahkan ke pundak kecilnya. ’’Kalau pabrik ini mati, maka orang-orang ini akan nganggur, ndak bisa makan, ndak bisa nyekolahi anak-anaknya, mereka jatuh miskin. Kamu mau kejadian kayak gitur” Tegar langsung menggeleng cepat
Selama libur satu bulan sebelum tahun ajaran baru di mulai, Romo menyuruh Tegar kerja jadi buruh giling di pabrik. Sebenarnya melinting bukan hal baru buat Tegar. Sejak kecil ia biasa ikut iseng melinting kala bermain. Ka dang pula ikut mengepak rokok yang sudah dilinting, di bagian ini lebih banyak dilakukan laki-laki. Tapi toh yang namanya liburan sekolah, tentu Tegar mengharapkan bermain seperti yang lain.
Seperti kedua adiknya, Karim dan Lebas, yang bisa bebas melakukan apa pun. Tidaklah gam pang bagi remaja seusianya untuk terus berada di pabrik dan bertahan menjadi pekerja. Apalagi sikap Lebas yang memang kekanakan dan sengaja menggoda dengan pamer bahwa dia tadi habis main ini-itu, atau habis pergi jalan- jalan sama si A atau si B. Diam-diam itu membuat Tegar kesal, dan saking kesalnya tak hendak ia menunjukkan ke adiknya itu.
Meski pelintingan lebih banyak dilakukan kaum perem puan, tetapi Tegar merasa nyaman melinting bersama mc- reka.Tegar sampai pada kesimpulan bahwa dia percaya ta ngan-tangan para pelinting itu punya otak sendiri. Semen tara mereka asyik berkelakar dan bergosip, tangan mereka bekerja terus, seperti mesin yang sudah diprogram untuk mengerjakan itu-itu saja. Demikian fasihnya tangan para pelinting. Orang yang mengajari Tegar melinting dengan benar bernama Mbok Marem. Dia termasuk buruh giling senior di pabrik. Orangnya murah senyum, tubuhnya subur khas perempuan Jawa.
Kali ini, Romo menyuruh Tegar mengikuti jam kerja pegawainya. Ia pun diupah seperti pegawai lainnya. Tak ada kata liburan untuk remaja tanggung itu, keluar pabrik hanya ketika Tegar mendaftar untuk masuk SMA, lain itu tidak. Ketika meminta izin pada Romo saat teman-teman mengajaknya main ke Menara Kudus, Romo tak memperbolehkan. Tegar sempat protes, merasa liburannya terganggu dengan sikap diktator Romo, tapi Romo malah bilang, ”Kalo cuma ke Menara Kudus kamu sudah ke sana dari kecil, apa lagi yang mau dilihat? Belum berubah, tem patnya juga masih sama. Kalau kamu mau pergi main, lebih baik kamu mengusahakan semua buruh diajak jalan-jalan bersama.
Biar semua merasakan senangnya dolan setelah kerja keras.” Tegar tak bisa menjawab lagi, jika Romo su dah mengeluarkan kata ’buruh’, beban itu seolah kembali dipindahkan ke pundak kecil Tegar. Bahkan di hari Minggu, Romo mengajarinya manajemen pabrik. Dia mengundang bendahara pabrik yang membawa setumpuk buku pembu kuan, lalu dibukanya di hadapan Tegar, dan dijelaskan satu per satu biaya-biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan. Serta berapa penghasilan yang didapatkan. Angkanya membuat Tegar tercengang.
[-]
’’Mas Tegar nanti yang bakal menggantikan Pak Raja,
ya?” tanya Mbok Marem. Ngomong-ngomong, Mbok Ma- rem konon sudah melinting untuk Romo sejak Djagad Raja berdiri, sejak nama Djagad Raja bahkan belum digunakan sebagai merek dagang. Sejak perusahahaan kretek ini masih dipegang eyang kakungnva Tegar. Mbok Marem usianya lebih tua dari Romo.
”Lha iyo... sopo vianeb kalo bukan Mas Tegar?” sahut buruh lain, yang usianya lebih tepat dibilang masih seusia anak Mbok Marem.
”Sregcp tenon, Mas Tegar. Aku gelem melu Mas Tegar kalo gitu,” komentar Mbok Marem. Seraya dengan ucapan Mbok Marem, beban itu pun bertambah berat bertumbuk di pundak Tegar.
Di akhir pekan, Romo mengajak Tegar pergi ke Te manggung, tempat ia biasa belanja tembakau dan cengkeh. Mereka berdua pergi ke Desa Legoksari di Temanggung, yang konon beberapa minggu sebelumnya ladangnya kejatuhan bintang atau kedatangan cahaya. Ya, kejatuhan bintang, kedengarannya memang aneh. Orang-orang desa itu percaya, jika ada satu ladang tembakau yang kejatuhan bintang, maka di situlah srinthil akan tumbuh.
Tembakau dengan kadar nikotin paling tinggi yang tentunya akan dijual dengan harga tinggi pula. Yang paling bagus bisa mencapai Rp. 700.000,- per kilogram, tergantung tingkat kualitasnya. Dia akan mendapat keuntungan berlipat-lipat dari penjualan tembakaunya. Setelah itu, baru mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju ke ladang tembakau biasa, yang kualitasnya bagus tetapi bukan srinthil.
Begitu mobil mereka tiba, lelaki bertubuh kecil bernama Pak Muri langsung menyambut mereka.
”Ini Tegar, anak sulungku. Dia yang bakal mengganti- kanku,” ucap Romo tanpa ragu. Pak Muri langsung ber sikap hormat dan ramah pada Tegar, dia tahu betul bocah tanggung itulah yang suatu hari yang akan datang ke situ dan memilih sendiri tembakau dan cengkeh. Mereka melewati ladang tembakau yang menghampar, di pinggir nya daun-daun tembakau yang telah dipetik sedang dijemur.
Para pekerjanya tak ada yang berpakaian bersih, semua kelihatan dekil. Noda tembakau telah menempel di baju mereka, meninggalkan jejak kecokelatan yang takkan ber sih meski dicuci berkali-kali, dan aroma tubuh mereka... hhhmmm... itulah yang disebut Romo sebagai aroma uang.
Pak Muri mengajak berjalan melewati beberapa gudang yang terbuat dari bambu-bambu. Sesekali Pak Muri menyapa beberapa orang yang sedang membeli tembakau di gudang- gudang itu, dilayani oleh para pegawai lainnya. Mereka berhenti di sebuah gudang yang lebih sedikit dikunjungi pembeli. Ada seorang lelaki paruh baya yang kemudian me nyapa Romo. Mereka terlihat sudah akrab, kelihatannya lelaki itu pun sudah langganan membeli tembakau Pak Muri. Romo kembali memperkenalkan Tegar padanya. Tegar lupa namanya, tapi dia ingat, lelaki itu mengambil sebatang kretek dari sakunya. Tegar memerhatikan bungkus kretek itu, Gelang Empat. Mungkin dia pemiliknya.
’Kamu yang akan jadi penerus Kretek Djagad Raja va?” Tegar menyalaminya sambil tersenyum kecil. ”Aku harus hati-hati sama kamu kalau begitu, bakal jadi sainganku.” Pak Gelang Empat berkelakar.
Romo men-cetbot tembakau dari st-jamang tembakau yang telah diikat dan ditumpuk dalam satu keranjang besar. Lalu memberikan sedikit pada Tegar. Romo mencium aromanya, merasakan teksturnya di tangannya, mengamati warnanya.
Tegar mengikuti semua yang Romo lakukan, meski bocah itu tak benar-benar mengerti tembakau seperti apa yang sebaiknya dipilih. Lalu, cethotan tembakau itu dimasukkan dalam kertas payung, dan diberi tulisan dari tumpukan keranjang mana tembakau itu berasal. Romo me lakukan hal yang sama untuk beberapa keranjang tembakau lainnya. I'ak lama, Romo dan Pak Muri tawar-menawar hingga akhirnya mereka salaman.
[-]
Romo, Tegar, Pak Gelang Empat, dan Pak Muri lalu berjalan keluar gudang. Mereka melewati sebuah gudang lain yang lebih sepi. Seorang lelaki China sedang menawar pada seseorang pekerja bertubuh gemuk. Romo memanggil lelaki bertubuh gemuk itu, dan mereka saling menghampiri dan bersalaman. Mereka berbicara sejenak. Di gudang itu hanya ada lelaki China tadi yang membelinya. Tegar menarik baju Romo dan berbisik, ’’Kalau di gudang sini lebih sepi, kenapa kita ndak beli di sini saja, Romo?” Romo tak menjawab, dia memberi isyarat untuk menyuruhnya diam. Lalu Romo kembali beramah-tamah dengan lelaki gemuk itu.
Seusai berbelanja tembakau, mereka tak langsung pu lang. Romo, Pak Gelang Empat, dan Pak Muri duduk di bale-bale tempat para pekerja biasa mengaso sambil ngopi, makan pisang goreng dan tiap orang mengeluarkan rokok kreteknya masing-masing. Tegar tak bisa diam, tak tahan melihat ladang tembakau yang hijau menghampar. Maka ia minta izin Romo untuk menjelajahi ladang. Romo meng- iyakan, dan tak disia-siakannya, Tegar langsung berlari di antara tembakau yang tengah dipetiki oleh para pekerja. Dihirupnya campuran aroma tembakau dan udara segar yang menerbangkan tubuh kecil Tegar sambil memejamkan mata.
Aku terbang., daun tembakau adalah sayapku. Sinar matahari menembus kelopak matanya. Para pekerja yang melihat Tegar tersenyum, ada yang menyuruhnya hati-hati agar tak terperosok di tanah yang tak rata. 'lapi ia tahu, takkan terperosok di tanah. Sebab aku terbang. Sejak itu Tegar tahu, ia telah jatuh cinta pada tembakau.
Di perjalanan pulang dari Temanggung, Tegar kembali bertanya, Tomo, kenapa kita ndak beli di gudang yang lebih sepi itu tadi?”
Kali ini, Romo tak diam, ”Kamu lihat bapak-bapak China tadi?” Tegar mengangguk. ”Dia itu pemilik kretek cap 999. Dia selalu beli di gudang yang itu, gudang yang menyediakan mbako nomor wahid. Romo belum mampu beli mbako di gudang yang itu. Karena kalau kita beli di gudang situ, berarti kita harus menaikkan harga kretek. Kalau kita menaikkan harga kretek, Romo berarti bertaruh, kemungkinan pelanggan kita akan pindah ke kretek lain, sebab kretek kita jadi terlalu mahal. Itu berarti, kretek kita ndak laku. Kalau ndak laku, berarti Romo ndak bisa mem bayar pegawai. Kamu mengerti?” Tegar paham, tapi dia diam saja.
”Suatu hari nanti, kamu yang harus bisa memikirkan gimana rokok kita bisa dibeli sama semua orang, meskipun harganya mahal. Suatu hari, kamu yang harus membeli mbako di gudang yang tadi itu, dan langsung dilayani sama pemilik ladang mbako, ya?”
Tegar kembali diam, merenungi ucapan Romo. Romo seperti mengetahui isi pikirannya, lalu menyodorkan sebatang Djagad Raja.
’Kalau lagi mikir, paling enak sambil ngeses” Diambilnya batang kretek itu, dan dipantikkannya api. Gurih sigaret Kretek Djagad Raja lumer di seluruh dinding mulut kecil Tegar. Sepulang dari Temanggung, Tegar sengaja membeli Kretek 999 di warung untuk sekadar membandingkan rasanya. Rokok cap 999 adalah kretek yang saat itu bisa dibilang nomor satu. Kemasannya paduan antara merah dan kuning. Kretek itu, kata Romo, sudah ada jauh sebelum Djagad Raja ada. Mereka telah memulai bisnis sejak sebelum kemerdekaan, ketika Belanda masih menjejakkan kaki di negeri ini. Ketika tahun masih diawali dengan angka 18, bukan 19. Tak heran, kerajaan Kretek 999 telah terbangun demikian besar. Mereka sering mengiklankan produknya di majalah dan koran, bergambar sigaret Kretek 999. Kadang dengan gambar seorang laki-laki tengah merokok dengan gaya yang gagah, lelaki dari keturunan priyayi.
Meski Djagad Raja juga sesekali memasukkan iklannya di koran. Tak besar memang, tetapi cukup untuk memperkenalkan kretek itu ke masyarakat. Kretek Djagad Raja lebih dikenal luas memang karena getbok tular. Tegar bertekad, suatu hari nanti akan memasang iklan Djagad Raja yang besar di koran dan majalah. Akan dibuatnya iklan yang berbeda dari iklan rokok lainnya, 'lak hanya itu, orang juga akan menge nal Djagad Raja sebagai penopang acara-acara seni yang mutakhir. Orang akan tahu Djagad Raja adalah kretek nomor satu.
Romo benar, pikir Tegar, rokok bisa membuat pikiran lebih terbuka. Asap itu seolah-olah membawanya terbang ke awang-awang dan mengajaknya melihat akan jadi apa kretek Djagad Raja kelak. Usai isapan terakhir. Tegar ter tidur hingga akhirnya tiba di Kudus. Ketika itu Romo me mandangi wajah Tegar yang tertidur, seperti Tegar meman dangi wajah Lebas saat ini yang tertidur. Ketika tidur, Lebas terlihat tak menyebalkan. Dia terlihat seperti anak baik- baik yang menurut saat dinasihati orang tua. Tapi apa mau dikata, dinasihati Romo pun Lebas tak mempan, apalagi Tegar yang cuma kakaknya. Tak lama, Lebas mengulet, membuka matanya yang masih lengket dan menguap.Tegar menutup hidung.
