0
Notification
Update Novel Setiap Hari, Pukul 10.00

Loading...
Home  ›  Chapter  ›  Gadis Kretek

Gadis Kretek Chapter 2: Klobot Djagad

"Novel Gadis Kretek ditulis Ratih Kumala dan diterbitkan tahun 2012 mengangkat budaya Jawa, terutama tentang sejarah awal pabrik kretek di Indonesia."

Gadis Kretek Chapter 2
Gadis Kretek Chapter 2: Sigaret Kretek Djagad Raja

Gadis Kretek Chapter 2: Sigaret Kretek Djagad Raja

Gadis Kretek Chapter 2

Lelaki yang ingin menembak sasaran  lebih cepat dari pada bayangannya sendiri itu  kini  harus  mengalah sejenak,  mengingat  dia  betul-betul  buta  Cirebon. Diteleponnya  Erik, teman  lamanya  di Amerika, tetapi  tak ada yang mengangkat. Seolah ponsel Erik tak bertuan. Tiba-tiba suara musik lenyap, Lebas kaget. Dia memeriksa iPod-nya.


’’Sial!” Batereny’a habis. Dinyalakannya radio, terdengar suara penyiar yang renyah.Ia  teringat: sudah  lama dirinya lupa  hari  dan  tanggal. Ya, ini adalah risiko jadi pekerja freelance  (untuk  tidak  menyebut  dirinya  ’pengangguran’).


Ponsel  Lebas berbunyi, nama  ’Erik’ tertera  di situ. Lebas mematikan radio dan dengan gembira diangkatnya telepon itu.


”Ya Ampuuun... sibuk abis lu ya! Gue udah di Cirebon nih,  alamat  lu  di  mana?”  Di  ujung  sana,  Erik  terkekeh puas  mendengar berita  Lebas di Cirebon, tak menyangka Lebas akan  benar-benar  datang  menemuinya,  berkunjung ke  kotanya.  Erik  memberikan  ancer-ancer  Rumah  Rasta, demikian ia menyebut tempat tinggalnya.


Ketika  akhimva  tiba  di  Rumah  Rasta,  sebuah  studio indie yang didirikan oleh Erik, seorang teman kuliah Lebas di San Francisco, Lebas mengempaskan tubuhnya di kasur busa yang sudah tipis terletak di pojok studio.


"Kasurmu  ini  tipis  banget,  tinggal  digoreng  jadi  deh tahu sumedang,” komentar Lebas sambil mengeluarkan satu karton rokok keretek Djagad Raja. Erik nyengir menerima oleh-oleh yang tak asing lagi itu.


"Biarlah  man,  biar  musisi  yang  datang  kemari  benar- benar ingin bermusik, bukan cuma buat numpang tidur!” lalu Erik tertawa. Lelaki sepantaran Lebas itu menggaruk-garuk rambut  gimbalnya.  Sebuah  topi  rajut  berwarna  kuning- merah-hijau  menutupi   rambutnya  yang  makin  panjang.


Erik adalah kakak kelas Lebas, yang sudah sejak awal masuk jurusan  musik.  Lebas  kadang  kesulitan  memahami  jalan pikiran Erik. Pemuda itu memang eksentrik. Ia lulusan San Fransisco,  tapi  lebih  memilih  menetap  di  Cirebon,  kota yang  tak  menjanjikan  apa-apa  pada  karier  musik.  Kalau mau, Erik sebetulnya bisa tinggal di Jakarta.


Sebab dengan kemampuan  musik  dan  keluarganya  yang  cukup  mapan, tentu  di Jakarta  Erik  akan melesat jauh. Erik  keranjingan Bob Marley sejak berkunjung ke Jamaika ketika kuliah dulu.


Awalnya, Lebas kuliah di jurusan bisnis, seperti perintah romonya. Satu tahun ia di San Fransisco untuk belajar bisnis, tapi kemudian tersadar benar itu bukan panggilan jiwanya. Maka diam-diam Lebas pindah ke jurusan perfilman. Ketika Romo  akhirnya  tahu,  dia  mengoyak-ngoyak  surat  wasiat yang berisi pembagian warisan  keluarga.

[-]

yang berisi pembagian warisan  keluarga. Semua penghuni rumah  ketika itu hening melihat Romo murka.Tiga  bulan Romo tak berbicara pada  Lebas, pemuda itu  berusaha se­ mampunya untuk membujuk ayahnya, tapi dia tetap meng­ anggap  Lebas  tak  ada.  Hingga  pagi  itu,  Romo  lumpuh separuh karena stroke. Ibu bilang, pagi itu Ibu tak sengaja bilang kalau Lebas akan menjadi asisten sutradara magang untuk sebuah pembuatan film indie. Romo menyumpah- nyumpah, lalu seraya... Malaikat Maut datang mengambil separuh nyawanya. Setelah itu, keadaan membaik, meski kesehatan  Romo tidak baik. Romo memaafkan Lebas.Me- nurutnya  (yang diucapkan dengan cadel dan terbata-bata), memaafkan  adalah  salah  satu  obat  yang  paling  mujarab untuk sakitnya. Dia sadar betul Lebas adalah alasan dia terserang stroke. Dua hari kemudian seorang pengacara datang dan membuatkannya selembar surat wasiat terbaru, nama Lebas kembali tercantum di situ.


Ketika Lebas memutuskan untuk pindah jurusan seni musik karena merasa perfilman tidak cocok lagi dengan jiwanya, Lebas tak bilang siapa-siapa. Ketika itu, Lebas (yang satu-satunya anak jurusan perfilman) diajak serta, bersama tiga orang teman kulit putih lainnya, teman sejurusan Erik di seni musik. Mereka ditugasi mengaransemen ulang lagu musisi tertentu. Dosen menvmruh mereka untuk mendalami musisi  pilihan  mereka,  mengenal  lebih  jauh  kepribadian dan  musik ciptaannya. Sepulang dari Jamaika, Lebas yang awalnya  cuma  ikut-ikutan  merasa  dapat  pencerahan  dari lirik  lagu-lagu  Bob Marley.


Ia mengubah  rambutnya  jadi gimbal. Lalu suatu malam ketika sedang main gitar dan bernyanyi lagu  ’Redemption Song”, Lebas seperti kejatuh­ an  inspirasi:  ia  ingin  jadi  musisi! Ajaran  baru  mulai  lagi, tiba-tiba Lebas sudah berada di kelas musik bersama sepe­ rangkat perkusi.Ia  meninggalkan  panggung, kostum, serta naskah tebal yang harus dihapal.


Delapan bulan Lebas jadi pengikut Bob Marley, sampai akhirnya   kutu   rambut   menganggap   gimbalnya   adalah tempat  yang  nyaman   untuk   bersarang.  Ia   garuk-garuk kepala  dan  mendapati  dua  ekor kutu  terselip  di  kukunya. Seekor  meloncat  kembali  ke  kepala  Lebas,  seekor  lagi dengan garang dipitasnva dengan kuku jempol. Darah muncrat.


Lebas  berteriak,  gemas  bercampur  kesal.  Kutu- kutu itu mengisap darah kepalanya! Pantas dia merasa lebih bodoh  akhir-akhir  ini,  tentu  saja  selain  karena  marijuana yang kebanyakan diisapnya pula. Lebas memutuskan untuk mencukur   habis   rambutnya.   Dia   berubah   jadi   plontos dan kalap membuang semua aksesoris Bob Marley-nya. Untung  ketika  Karim  datang  berkunjung  rambut  Lebas sudah  tumbuh  normal  lagi, satu-satunya yang  tersisa  dari masa-masa Bob Marley wannabe adalah sebuah poster Bob Marley dengan pose tenarnya yang klasik: sedang mengisap marijuana.


Karim, kakak keduanya yang sedang ada urusan di Amerika,  melihat  dengan  mata  kepala  sendiri  bahwa  di flat mungil adiknya tersedia alat musik lengkap yang dibeli dengan murah di pasar loak. Jadilah, Lebas terpaksa mengaku sudah tidak di jurusan perfilman lagi.Karim pusing harus bagaimana ketika Lebas memohon untuk tak bilang siapa- siapa. Tapi  ternyata  Karim  bilang  ke Tegar,  putra  sulung kelurga, yang kemudian lapor ke Ibu yang kemudian lapor ke Romo. Ya, begitulah ular-ularannya, dan diakhiri dengan Romo menelepon Lebas, suaranya terbata-bata karena cadel stroke.

[-]

"Romo  ndak  marah. Tapi,  kalau  kamu  pindah  jurusan lagi, Romo akan berhenti ngasih kamu uang jajan dan ndak akan Romo biayai kuliah lagi!”

Demikianlah,  akhirnya  Lebas  bersusah  payah  menyelesaikan kuliah meski sebenarnya juga sudah bosan dengan jurusan  seni  musik.  Semenjak  insiden  kutu  rambut  itu, Lebas mulai enggan dengan jurusan musik. Ilingga seorang gadis bernama Danish, berambut hazelnut seperti warna matanya, datang mengetuk hati Lebas. Ia memperkenalkan dunia  periklanan yang mampu  menyulap produk  dan  jasa menjadi sedemikian ajaib untuk konsumen. Lebas pun mengambil kursus fotografi demi gadis itu. Lalu berniat pindah  jurusan di  tahun  ajaran  baru  selanjutnya. N iat  itu urung  mengingat  pesan  Romo  yang  tak  akan  membiayai biaya kuliah dan hidupnya selama di Amerika itu tadi. Lebas terjebak di jurusan musik. Awalnya Lebas kecewa, dan lebih memilih bolos.


Hari-harinya  diisi dengan  menemani  Danish ke mana-mana, bahkan ketika ada kelas pun, Lebas dengan setia menungguinya.  Hingga  suatu  hari,  Danish  mematahkan  hati Lebas dengan alasan pemuda itu terlalu posesif dan tak me­ mikirkan masa depan. Lebas sempat berusaha membujuk Danish dengan berkata bahwa di Indonesia dia adalah anak orang kaya pemilik pabrik rokok, jadi soal masa depan tak perlu dikhawatirkan. Akhirnya, Danish mengaku sudah pacaran   dengan   dosennya   yang  telah   beristri.


Dengan amarah  meledak-ledak,  Lebas  menyalakan  musik  keras- keras, lagu punk rock alternatif yang vokalisnya lebih cocok dibilang berteriak dan menggeram ketimbang bernyanyi. Album  itu didapatnya  dari sebuh pesta yang mengundang band yang konon  memuja setan tersebut. Sejak itu, Lebas masuk kuliah lagi, belajar musik lagi, hingga ia lulus meski tersendat-sendat.


Erik adalah satu-satunya (dari lima orang yang dulu ke Jamaika) yang masih  bertahan  dengan  aliran  Bob Marley. Selain aksesoris dan dandanan ala Bob Marley, setiap malam ia tidur diiringi Bob Marley, membuat lagu dengan musik beraliran Bob Marley, dan-percaya tak pcrcaya-wajah Erik pun bermutasi menjadi mirip Bob Marley.


"Ada  angin  apa  kau kemari, man?” tanya  Erik  dengan gaya bicara yang khas kejamaika-jamaikaan. Dia memanggil semua orang yang dekat dengannya dengan sebutan ’man’, yang benar-benar dilafalkan ’man’, bukan ’men’ seperti pengucapan dalam Bahasa Inggris. Lalu, Lebas menjelaskan maksud kedatangannya, memintanya bergabung untuk menyukseskan  film  idamannya.  Dijelaskan  bahwa  dirinya tak punya  banyak  uang, jadi  mungkin  bayarannya  minim, syukur-syukur bisa gratisan. Erik tertawa mendengar ucapan Lebas.


”Man, kau pikir aku bodoh... mana mungkin kau tak punya uang!”


”Ini serius. Kakakku enggak mau nyeponsori filmku,” Lebas berkata dengan wajah kecewa.

Erik tertawa lagi, memegang pundak Lebas, ”Tak masalah. Aku bisa kerjakan scorring musikmu. It's for our brother­ hood,  rite  ma-manV'  Lebas  tersenyum.  Dia  tahu,  dirinya selalu bisa mengandalkan Erik.


Semakin  malam,  Rumah   Rasta  seperti   jebakan   lalat yang lengket. Mulai  banyak yang datang, terutama  karena Erik menelepon teman-temannya untuk memberi iming- iming bahwa  Lebas membawa  berslot-slot Kretek  Djagad Raja. Beberapa pemuda dengan wajah bermutasi mirip Bob Marley bermain akustik lagu ”N o Woman, N o C ry”.


 ...Good time we've had, and good time we've lost, along the way.... In this bright future, you can't forget your past. So dry your teats I say....

Bahkan suara Erik pun mirip suara Bob Marley, pikir Lebas.


Satu pak Kretek  Djagad Raja yang Lebas bawa sebagai oleh-oleh sudah dibongkar lintingannya. Para Bob Marley- er mencampurnya dengan ganja dan melinting ulang dengan papier  yang  sengaja  mereka  bawa.  Ruang  studio  Rumah Rasta dipenuhi asap. Semua mulai nyengir kuda. Beberapa linting Djagad  Raja plus ganja itu berputar dari  mulut ke mulut.


Mereka semua mengisap marijuana plus Djagad Raja dengan ekspresi sama: ekspresi Bob Marley di poster milik Lebas dulu.


Erik tiba-tiba teringat sesuatu, ”Aku punya sesuatu buat­ mu, man.” Erik membuka laci. Satu pak kretek diberikannya pada Lebas.

’’Ngapain  kamu  ngasih  aku  Kretek  Djagad  Raja? Tuh,


aku  punya  banyak.” Erik  menggeleng-geleng,  memungut kembali kretek yang diempaskan Lebas.


”No, no... kau lihat dulu dengan cermat, man. Itu bukan Djagad Raja. Itu Jagat Raya!” Lebas mengerutkan  kening, tak mengerti. Lalu, Erik menunjuk tulisan merek di kretek yang memang sama persis dengan Djagad Raja. Betul saja, tulisannya Jagat Raya! Lebas tertawa. "See...?”Erik terlihat senang  melihat  tawa  Lebas.  ’’Sengaja  aku  beli,  nemu  di sebuah warung!”


Bukan  rahasia  lagi,  ada  beberapa  kretek  yang  merajai pasar yang lantas ditiru oleh produsen kretek lain. Mereka tak sekadar meniru kemasan, tapi juga meniru rasanya.Kali ini, Lebas harus kagum, sebab demikian gigih kretek yang satu ini meniru kemasannya. Bagaimana dengan rasanya? Lebas mengambil sebatang kretek Jagat Raya dan menyu­lutnya dengan pemantik.

[-]

’’Rasanya beda sama Djagad Raja.”


”KW 12, ya? Ha ha ha...!” komentar Erik.


Ya, seperti barang tiruan bermerek, biasa disebut sebagai K W  dan  diikuti  angka. Semakin  besar angkanya, semakin kelihatan palsunya.



Tegar  marah-marah  di  pinggir  jalan,  ponselnya  sejak tadi menempel di kuping, tapi orang yang ditelepon tak kunjung mengangkat panggilannya. Ia baru saja turun dari travel Jakarta-Cirebon.  Supir  travel  sempat  menawarinya untuk diantarkan ke tempat tujuan, tapi Tegar lebih memi­ lih diantar hingga pool saja. Di awal perjalanannya ke Cire­ bon, ia berpikir hendak menelepon Lebas dan minta dijem­ put agar mereka tinggal di hotel yang sama, sebab ia tahu betul  akhir pekan  begini  tidak mungkin  dapat hotel. Tapi sudah  lebih  dari  setengah  jam  teleponnya  tak  diangkat juga. Mobil  travel pengantar para penumpang dalam  kota baru saja keluar, dan sudah penuh. Mobil itu mandeg antri macet tepat di depan Tegar. Supirnya yang tadi menawar­ kan  mengangguk  ramah  padanya,  Tegar  berusaha  terse­ nyum sambil terus menelepon Lebas.


Setengah jam kemu­ dian  sebuah  taksi kosong tersendat-sendat maju  di  antara kemacetan.  Tegar  masuk,  ia  menghirup  aroma  taksi  nan asam,  bau  taksi  tak  pernah  dibersihkan  bercampur  bau badan si supir yang sepertinya tak mengganti seragam berhari-hari.  Tegar  meminta  supir  untuk  mengantarnya ke  sebuah  hotel, hotel  apa  saja, yang penting  ada  kamar. Entar karena bodoh atau sengaja agar argo banyak, supir itu mengantar Tegar ke Jalan Cipto,salah satu jalan paling sibuk se-Cirebon  di  kala akhir pekan.  Sesampai  di  hotel, Tegar terus mencoba menghubungi adiknya dengan sia-sia.


Ia tak khawatir seperti  orang kebanyakan yang kalau menelepon tak diangkat, mengira ada hal-hal buruk akan terjadi pada orang yang dimaksud. Tegar  tahu  betul  kelakuan  adiknya yang seenaknya, dia mungkin sedang party di sebuah kelab malam dan sengaja meninggalkan ponselnya di hotel, pikir Tegar. Kemarahan Tegar sudah sampai ubun-ubun.Untung dirinya memutuskan untuk menyusul, pikirnya, kalau tidak urusan Jeng Yah pasti  tak jelas juntrungannya. Menyerah, Tegar memutuskan untuk tidur dulu demi meredam  ama­ rahnya.

Pagi   berganti,   Tegar   masih   berusaha   menghubungi Lebas. Kali ini diangkat, suara parau Lebas yang baru ba­ ngun tidur menyahut ’halo’ di ujung ponsel.

’’Kamu ke mana aja? Ditelepon ndak diangkat! Semale- man aku nyariin kamu! Ini aku sudah di Cirebon!

”Hah?! Romo meninggal?!” Lebas kaget.


”Romo meninggal, Romo meninggal, mbahmu! Mau nyumpahin orangtua sendiri biar cepat mati, ya? Makanya kalau ditelepon itu diangkat. Ke mana aja kamu semalaman?”

”Aku di studio musik teman.”


’’Hotelmu di mana? Aku ke situ sekarang!”


’Mas,  aku enggak  tinggal  di  hotel. Aku  semalaman  di studio musik teman.”

”Terus, gimana tidurnya?”


”Ya udah, tidur aja...  banyak tempat buat tidur kok di studio ini.”

”Ya ampun.  Bas, Bas...  kamu  itu  sudah  umur  berapa?


Hidupmu  masih  saja sembarangan.” Tegar  tak  habis  pikir dengan gaya hidup adiknya yang serampangan. Jika bukan dari keluarga Soeraja, pemilik pabrik rokok Kretek Djagad

Raja, pasti Lebas sudah jadi anak bermasa depan suram.

[-]

Tegar memutuskan menjemput adiknya dengan taksi meski ia tak tahu letak Rumah Rasta. Lebas memberikan ponsel- nya pada Erik yang menjelaskan ancer-ancer Rumah Rasta dengan   campuran   Bahasa   Indonesia   dan   ’Bahasa   Bob Marley’. Tegar coba  memahami  ucapan  Erik.  Bagi Tegar, lebih baik demikian daripada ia harus menunggu Lebas men­ datanginya. Bisa-bisa tiga hari berlalu dan Lebas belum juga tiba di hotel, pikir Tegar. Ketika sampai, ia mendapati Lebas belum mandi dan bertampang kucel, tertidur di kasur tahu sumedang di pojok studio. Tegar mengendus tubuh Lebas.


’’Kamu  ngerokok  ya?” Tegar  mirip  polisi  yang  sedang menginterogasi.

”Lah, aku kan memang merokok.”


"Maksudku,  kamu  ngisep  ganja  ya?” Lebas  diam  saja. Bagi kakaknya, itu berarti mengivakan. ’’Mandi! Ganti baju! Sekarang juga kita ke Kudus.”

’Kita?”


”Iya, kita!”


lak lama, Lebas mendapati dirinya duduk bersebelahan dengan Tegar yang masih kesal sedang menyetir mobil. Ia tak diizinkan menyetir mobil, sebab Tegar tak yakin adiknya sudah  benar-benar  waras,  tak  lagi  mabuk.


Ia  menyuruh Lebas meninggalkan semua barang yang dibawanya masuk ke dalam Rumah Rasta, dengan alasan tak mau tiba-tiba bertemu polisi yang kemudian mencium  bau marijuana di mobil mereka. Bisa-bisa bukannya mengurus urusan Romo, malah ribet dengan urusan hotel prodeo. Sebelum berang­ kat, Tegar bahkan mampir ke tempat pencucian mobil, menyuruh  petugas  mem-zmeum cleaner seluruh  mobil  dan membayar tips lumayan. Setelah itu, mereka mampir ke sebuah toko pakaian untuk membeli baju-baju baru untuk Lebas, termasuk celana dalam.

’’Padahal aku suka sekali sama jaket jins itu!” Lebas me­ ngeluh karena harus meninggalkan jaket kucelnya di Rumah Rasta.

’Sudah  seumur  gini  masih  saja  ngawur!” omel  Tegar,


’’Seharusnya aku sudah lepas tangan dari dulu. Ndak ngurus bayi gede lagi.”

”Aku juga enggak minta diurus kok.”


’’Bocah ndak tahu diuntung!”


”Aku bukan bocah,” bela Lebas masih kesal.


”Ya kalo bukan  bocah, buktikan! Jangan  bikin bingung semua orang.”

Tiba-tiba Lebas terkekeh kecil, Tegar sewot, ”eh... dikasih tau malah ketawa!”


’’Habisnya   Alas   Tegar   lama-lama   cerewetnya   mirip emak-emak. Mirip Ibu.”

Tegar  melengos,  Lebas  telah  mengunci  mulut  Tegar dengan  sukses.

Tegar menstarter  mobil,  menyuruh  Lebas mengenakan seat-belt. Dimulailah perjalanan koboi yang tak lagi poor and lonesome.


Lebas   memandangi   kakaknya   yang   serius   menyetir mobil. Dia memang selalu serius, dari dulu bahkan sampai usia segini. Sejak kecil, Tegar sudah diajak Romo ke pabrik, diajarkan melinting, diajarkan cara mengawasi para pekerja, bahkan diajarkan merokok. Coba, orangtua mana yang dengan   sengaja   mengajarkan   anaknya   merokok.   Ketika itu. Tegar  lulus  SMP.  Romo  memberinya  sebatang  rokok kretek  cap Djagad  Raja yang sengaja  dilintingnya sendiri, lalu mengajarkan cara merokok.

Romo juga menyiapkan bermacam-macam rokok e lain. Dia menyuruh Tegar kecil untuk mencecap rasa rokok-rokok itu. Lidah Tegar tahu benar, mana rokok yrang enak dan y’ang tidak. Meski secara pribadi, Lebas berpendapat yang namanya rasa enak itu berbanding lurus dengan selera. Tapi lidah masnya, Tegar, sudah terlanjur dilatih, bahwa rasa yang gurih  dan nikmat itu adalah rasa rokok cap Djagad Raja. Lain tidak.


Pada  saat lulus SMA, Tegar diberi tahu  sebuah rahasia besar keluarga: saus. Ya, saus, alias resep rahasia terpenting pada  rokok  kretek  selain  tembakau   dan  cengkeh.  Saus adalah  kunci  yang  membedakan  rasa  rokok  kretek  yang satu dengan y’ang lain. Saus itu ibarat nyawa sebuah pabrik rokok. Lebas dan Karim bahkan tak mengetahui rahasia saus rokok  cap  Djagad  Raja.

Konon, setahu  Lebas  dan  Karim y’ang  menduga-duga  sendiri  dan  akhirnya   mempercayai praduga  mereka, Tegar telah  disumpah  oleh  Romo untuk tak memberitahukannya  pada siapa  pun, termasuk  kepada dua  saudara  kandungnya  itu.  Saus  harus  disimpan  rapat- rapat rahasia campuran bahannya. Dan konon, Tegar bah­ kan  menandatangani  sebuah  surat  kontrak  perjanjian  de­ ngan Romo di atas selembar kertas segel: bahwa dia takkan pernah membocorkan rahasia saus.

[-]

”Aku curiga,” ujar Lebas pada suatu hari ketika menduga-duga bersama dengan Karim, ’’keliatannya sebenarnya Mas Tegar juga disumpah pocong untuk yang satu ini! Gimana enggak,  Mas  Tegar  itu  tipe  orang  yang  sering  kelepasan kalau ngomong, tahu-tahu  rahasia  orang terbongkar. Tapi dia  gak  pernah  sekali  pun  kelepasan  ngomongin  rahasia bahan saus.”


Tegar  tak  pernah  bisa  mendefinisikan  ’gurih’ dengan benar.  Baginya,  gurih  adalah  gabungan  antara  asin  dan manis yang pas, yang datangnya tidak hanya dari  dua ba- han-garam  dan  gula-, tetapi  dari  bahan-baham  lain  yang mengandung rasa itu, dan jika dirasakan akan sedikit mem­ buat haus. Itu gurih versi Tegar. Tapi versi Romo beda lagi. Gurih itu rasa puas yang membuat orang lain merasa cukup dengan yang itu saja, tak perlu mencoba yang lain, sehingga nantinya akan kembali lagi untuk mencicip rasa gurih  itu. Marketing sekali  pikiran  Romo,  pikir Tegar  ketika  Romo menjabarkan definisi ’gurih’ versinya.



Ketika itu Tegar lulus SMP dan keluarga Soeraja masih tinggal  di  Kudus.  Tegar  baru  menunjukkan  rapor  SMP- nya  pada  Ibu.  Romo  memanggil Tegar dan menyuruhnya mencicipi  rokok  kretek  yang  baru  dilintingnya   sendiri. Tegar terpaku di hadapan sebungkus rokok itu. Romo menjorokkan   rokok   dari   bungkusnya,  menyuruh   bocah yang belum genap berusia  16 tahun itu menarik sebatang. Tegar ragu, Romo mengangguk, meyakinkannya, kini rokok itu  sudah  berada  di tangan Tegar.  Romo juga  mengambil sebatang.  Ia  menyalakan  pemantik  dan  menyedot  rokok itu. Asap keluar dari mulut dan hidungnya. Tegar terus mengamatinya.


Lalu Romo menyalakan pemantik lagi dan menyodorkannya pada Tegar remaja.Ragu, tapi akhirnya Tegar nyalakan juga rokok itu. Diisapnya sekali. Kretek- kretek... terdengar bunyi cengkeh terbakar di dalam batang rokok itu.Bocah itu terbatuk. Romo tertawa, dan menepuk- nepuk pundak putranya.

’Habiskan!” ujarnya, ”itu kulinting sendiri khusus buat­ mu.” Tegar berusaha menikmati rokok itu. Sejujurnya, meski Tegar tahu teman-temannya mulai mencoba-coba merokok, tapi Tegar sendiri belum pernah merokok. Kadang-kadang, teman-teman  di sekolah  memintanya  untuk  membawakan beberapa  batang  rokok dari  pabrik.  Demi  solidaritas, dan lagi pula takkan ketahuan jika ia mencuri empat atau lima batang rokok yang baru selesai dilinting, maka Tegar pun bersedia membawakan mereka rokok.


Tegar  tahu,  cepat  atau  lambat  ia  pasti  akan  dibebani kepengurusan  pabrik  rokok  keluarga  Soeraja.  Hanya  saja, ia tak  menyangka  kalau  akan  selekas  ini. Sejatinya, Tegar masih  ingin  merasakan  apa  yang  harus  dialami  teman- teman  sebayanya:  mencuri-curi sebatang rokok dari  ayah­ nya karena takut ketahuan. Lalu merokok di belakang seko­ lah, di udara terbuka.


Di mana asap dan aroma bakaran tembakau bisa disamarkan agar guru tidak mampu mencium jejaknya. Tapi  tidak  jika  Romo  menyuruhnya  merokok  di depannya, dilintingkan,  disodorkan,  dipantikkan  pula  api­nya, dan akhirnya disuruh menghabiskannya.


’’Kamu  tahu  kalau  kamu  itu  orang  yang  beruntung, Gar?” Romo berbicara di antara asap yang mengepul. Wajah Romo serius sekali. ”Kalau kamu mau, kamu bisa ngerokok sampai keblinger. Orang lain harus cari duit dulu biar bisa beli  rokok. Tapi  kamu  ndak.” Tegar diam,  mendengarkan Romo. Dia  tahu  sedang diwejang. Mungkin  karena Tegar sudah  lulus  SMP,  sudah  dianggap  dewasa.  "Nanti,  kalau kamu sudah  lulus kuliah, kamu ndak perlu  mikir soal cari kerja, tinggal kamu ngurus baik-baik ini pabrik. Orang lain masih  harus keliling cari  kerjaan, upahnya  ndak seberapa. Pokoknya  hidupmu  bakal  enak,  kalau  kamu  bisa  ngurus pabrik ini baik-baik.”

[-]

Setelah  itu,  Romo  mengajak Tegar  keliling pabrik.  Ini agak aneh, sebab sejak kecil sudah kenyang dijelajahinya semua   sudut  pabrik.  Tegar  mengenali   setiap   lekuknya, bahkan ia tahu jumlah dedemit yang berdiam di pohon asem tempat pegawai biasa menyandarkan sepedanya onthelnya.


Romo memperkenalkan pada Tegar satu per satu pegawai yang ada, mulai dari kursi manajerial hingga  buruh  giling yang tugasnya  melinting, dan  buruh  bathil yang tugasnya merapikan ujung pangkal kretek. Agak konyol sebenarnya, sebab mereka kerap melihat Tegar di antara mereka dan ia sendiri sudah mengenal beberapa dari mereka.

”Kok kenalan lagi, Gar? Lali jenengku, yo?” Kelakar se­ orang pegawai. Romo hanya tersenyum mendengarnya, Te­ gar diam saja.

’’Suatu hari, orang-orang itu akan menjadi tanggungan- mu, Gar. Kamu harus bisa menjual kretekmu untuk mem­ beri  mereka upah. Kamu  harus  bisa menyediakan  fasilitas kesehatan untuk mereka, kamu juga harus membayar TH R setiap hari raya tiba, yangberarti kamu  mengeluarkan dua kali dari gaji biasanya. Mereka adalah tanggunganmu, Gar. Seistri-istrinva, sesuami-suaminva, seanak-anaknva.” Hati Tegar mencelos mendengar beban begitu besar mulai dipin­ dahkan  ke pundak kecilnya.  ’’Kalau  pabrik ini  mati, maka orang-orang ini akan nganggur, ndak bisa makan, ndak bisa nyekolahi  anak-anaknya, mereka  jatuh  miskin. Kamu mau kejadian kayak gitur” Tegar langsung menggeleng cepat


Selama libur satu bulan sebelum tahun  ajaran  baru di­ mulai, Romo menyuruh Tegar kerja jadi buruh giling di pabrik.  Sebenarnya  melinting  bukan  hal  baru  buat Tegar. Sejak kecil ia biasa ikut iseng melinting kala bermain. Ka­ dang  pula  ikut  mengepak  rokok yang  sudah  dilinting,  di bagian  ini lebih  banyak dilakukan  laki-laki. Tapi  toh  yang namanya  liburan sekolah, tentu Tegar mengharapkan  bermain seperti yang lain.


Seperti kedua adiknya, Karim  dan Lebas, yang bisa bebas melakukan apa pun. Tidaklah gam­ pang  bagi  remaja  seusianya  untuk  terus  berada  di  pabrik dan  bertahan  menjadi  pekerja. Apalagi  sikap  Lebas  yang memang kekanakan  dan sengaja menggoda dengan  pamer bahwa  dia  tadi  habis  main  ini-itu, atau  habis  pergi  jalan- jalan sama si A atau si B. Diam-diam  itu membuat Tegar kesal, dan saking kesalnya tak hendak ia menunjukkan ke adiknya itu.


Meski pelintingan lebih banyak dilakukan kaum perem­ puan, tetapi Tegar merasa nyaman melinting bersama mc- reka.Tegar sampai pada kesimpulan bahwa dia percaya ta­ ngan-tangan para pelinting itu punya otak sendiri. Semen­ tara mereka asyik berkelakar dan bergosip, tangan mereka bekerja  terus, seperti  mesin yang sudah  diprogram  untuk mengerjakan itu-itu saja. Demikian fasihnya tangan para pelinting.  Orang yang mengajari Tegar melinting  dengan benar bernama Mbok Marem. Dia  termasuk buruh  giling senior di pabrik. Orangnya murah senyum, tubuhnya subur khas perempuan Jawa.


Kali  ini,  Romo  menyuruh  Tegar  mengikuti  jam  kerja pegawainya.  Ia  pun  diupah  seperti  pegawai  lainnya.  Tak ada kata liburan untuk remaja tanggung itu, keluar pabrik hanya  ketika Tegar mendaftar untuk masuk SMA, lain  itu tidak. Ketika  meminta  izin  pada  Romo saat teman-teman mengajaknya  main  ke  Menara  Kudus,  Romo  tak  memperbolehkan. Tegar sempat protes, merasa  liburannya  terganggu  dengan  sikap  diktator  Romo,  tapi  Romo  malah bilang, ”Kalo cuma ke Menara Kudus kamu sudah ke sana dari kecil, apa lagi yang mau dilihat? Belum berubah, tem­ patnya juga masih sama. Kalau kamu mau pergi main, lebih baik kamu mengusahakan semua buruh diajak jalan-jalan bersama.

Biar  semua  merasakan  senangnya  dolan  setelah kerja keras.” Tegar tak bisa menjawab lagi, jika  Romo su­ dah  mengeluarkan  kata  ’buruh’, beban  itu  seolah  kembali dipindahkan ke pundak kecil Tegar. Bahkan di hari Minggu, Romo mengajarinya  manajemen  pabrik.  Dia  mengundang bendahara pabrik yang membawa setumpuk buku pembu­ kuan, lalu dibukanya di hadapan Tegar, dan dijelaskan satu per satu  biaya-biaya  yang harus  dikeluarkan  setiap  bulan. Serta berapa penghasilan yang didapatkan. Angkanya membuat Tegar tercengang.

[-]

’’Mas Tegar  nanti  yang  bakal  menggantikan  Pak  Raja,

ya?” tanya Mbok Marem. Ngomong-ngomong, Mbok Ma- rem konon sudah melinting untuk Romo sejak Djagad Raja berdiri, sejak nama  Djagad  Raja bahkan  belum  digunakan sebagai merek dagang. Sejak perusahahaan kretek ini masih dipegang  eyang  kakungnva  Tegar.  Mbok  Marem  usianya lebih tua dari Romo.

”Lha iyo... sopo vianeb kalo bukan Mas Tegar?” sahut buruh lain, yang usianya lebih tepat dibilang masih seusia anak Mbok Marem.


”Sregcp  tenon, Mas  Tegar.  Aku  gelem  melu  Mas  Tegar kalo gitu,” komentar Mbok Marem. Seraya dengan ucapan Mbok Marem, beban itu pun bertambah berat bertumbuk di pundak Tegar.

Di akhir pekan, Romo mengajak Tegar pergi ke Te­ manggung, tempat ia biasa belanja tembakau dan cengkeh. Mereka  berdua  pergi  ke  Desa  Legoksari  di Temanggung, yang konon beberapa minggu sebelumnya ladangnya kejatuhan  bintang  atau  kedatangan  cahaya.  Ya, kejatuhan bintang, kedengarannya  memang aneh. Orang-orang desa itu percaya, jika ada satu ladang tembakau yang kejatuhan bintang, maka  di  situlah  srinthil  akan  tumbuh.


Tembakau dengan  kadar  nikotin  paling  tinggi  yang  tentunya  akan dijual dengan harga tinggi pula. Yang paling bagus bisa mencapai  Rp.  700.000,-  per kilogram,  tergantung  tingkat kualitasnya.  Dia  akan  mendapat keuntungan  berlipat-lipat dari penjualan tembakaunya. Setelah itu, baru mereka melanjutkan  perjalanan  lagi  menuju  ke  ladang  tembakau biasa, yang kualitasnya bagus tetapi bukan srinthil.

Begitu mobil mereka tiba, lelaki bertubuh kecil bernama Pak Muri langsung menyambut mereka.


”Ini Tegar, anak sulungku.  Dia yang bakal  mengganti- kanku,” ucap  Romo  tanpa  ragu.  Pak  Muri  langsung ber­ sikap hormat dan ramah pada Tegar, dia tahu betul bocah tanggung  itulah  yang  suatu  hari  yang  akan  datang  ke situ  dan  memilih  sendiri  tembakau  dan  cengkeh. Mereka melewati  ladang tembakau yang menghampar, di pinggir­ nya  daun-daun  tembakau  yang telah  dipetik  sedang dijemur.


Para pekerjanya tak ada yang berpakaian bersih, semua kelihatan dekil. Noda tembakau telah menempel di baju mereka, meninggalkan jejak kecokelatan yang takkan  ber­ sih meski dicuci berkali-kali, dan aroma tubuh mereka... hhhmmm... itulah yang disebut Romo sebagai aroma uang.


Pak Muri mengajak berjalan melewati beberapa gudang yang terbuat dari bambu-bambu. Sesekali Pak Muri menyapa beberapa orang yang sedang membeli tembakau di gudang- gudang itu, dilayani oleh para pegawai lainnya. Mereka berhenti di sebuah gudang yang lebih sedikit dikunjungi pembeli. Ada seorang lelaki paruh baya yang kemudian me­ nyapa  Romo.  Mereka  terlihat  sudah  akrab,  kelihatannya lelaki  itu  pun  sudah  langganan  membeli  tembakau  Pak Muri.   Romo   kembali   memperkenalkan  Tegar   padanya. Tegar lupa namanya, tapi dia ingat, lelaki itu mengambil sebatang kretek dari sakunya. Tegar memerhatikan bungkus kretek itu, Gelang Empat. Mungkin dia pemiliknya.


’Kamu yang akan jadi penerus Kretek Djagad Raja va?” Tegar  menyalaminya  sambil  tersenyum  kecil.  ”Aku  harus hati-hati  sama  kamu  kalau  begitu,  bakal  jadi  sainganku.” Pak Gelang Empat berkelakar.


Romo  men-cetbot  tembakau  dari  st-jamang  tembakau yang telah diikat dan ditumpuk dalam satu keranjang besar. Lalu memberikan sedikit pada Tegar. Romo mencium aromanya, merasakan teksturnya di tangannya, mengamati warnanya. 

Tegar  mengikuti  semua  yang  Romo  lakukan, meski bocah itu tak benar-benar mengerti tembakau seperti apa  yang  sebaiknya  dipilih.  Lalu,  cethotan  tembakau  itu dimasukkan dalam kertas payung, dan diberi tulisan dari tumpukan keranjang mana tembakau itu berasal. Romo me­ lakukan hal yang sama untuk beberapa keranjang tembakau lainnya. I'ak lama, Romo dan Pak Muri tawar-menawar hingga akhirnya mereka salaman.


[-]

Romo, Tegar, Pak Gelang Empat, dan Pak Muri lalu berjalan keluar gudang. Mereka melewati sebuah gudang lain yang lebih sepi. Seorang lelaki China sedang menawar pada seseorang pekerja bertubuh gemuk. Romo memanggil lelaki bertubuh  gemuk itu, dan mereka saling menghampiri dan bersalaman. Mereka berbicara sejenak. Di gudang itu hanya ada lelaki China tadi yang membelinya. Tegar menarik baju Romo dan berbisik, ’’Kalau di gudang sini lebih sepi, kenapa kita ndak beli di sini saja, Romo?” Romo tak menjawab, dia memberi isyarat untuk menyuruhnya diam. Lalu Romo kembali beramah-tamah dengan lelaki gemuk itu.


Seusai  berbelanja  tembakau,  mereka  tak  langsung  pu­ lang. Romo, Pak Gelang Empat, dan  Pak Muri  duduk di bale-bale tempat para pekerja biasa mengaso sambil ngopi, makan pisang goreng dan tiap orang mengeluarkan rokok kreteknya  masing-masing. Tegar  tak  bisa  diam,  tak  tahan melihat ladang tembakau yang hijau menghampar. Maka ia minta  izin  Romo untuk menjelajahi  ladang.  Romo meng- iyakan, dan  tak disia-siakannya, Tegar langsung berlari  di antara tembakau yang tengah dipetiki oleh para pekerja. Dihirupnya  campuran  aroma  tembakau  dan  udara  segar yang menerbangkan tubuh kecil Tegar sambil memejamkan mata.


Aku terbang., daun tembakau adalah sayapku. Sinar matahari menembus kelopak matanya. Para pekerja yang melihat Tegar tersenyum, ada yang menyuruhnya hati-hati agar  tak  terperosok  di  tanah  yang  tak  rata. 'lapi  ia  tahu, takkan  terperosok  di  tanah.  Sebab aku  terbang.  Sejak  itu Tegar tahu, ia telah jatuh cinta pada tembakau.

Di  perjalanan  pulang dari Temanggung, Tegar kembali bertanya,  Tomo,  kenapa  kita  ndak  beli  di  gudang  yang lebih sepi itu tadi?”


Kali  ini,  Romo  tak  diam,  ”Kamu  lihat  bapak-bapak China  tadi?” Tegar  mengangguk.  ”Dia  itu  pemilik kretek cap 999. Dia selalu beli di gudang yang itu, gudang yang menyediakan  mbako  nomor  wahid.  Romo  belum  mampu beli  mbako di gudang yang itu. Karena  kalau  kita  beli  di gudang  situ,  berarti  kita  harus  menaikkan  harga  kretek. Kalau kita menaikkan harga kretek, Romo berarti bertaruh, kemungkinan  pelanggan  kita  akan  pindah  ke  kretek  lain, sebab kretek kita jadi terlalu mahal. Itu berarti, kretek kita ndak laku. Kalau ndak laku, berarti Romo ndak bisa mem­ bayar pegawai. Kamu mengerti?” Tegar paham, tapi dia diam saja.


”Suatu hari nanti, kamu yang harus bisa memikirkan gimana rokok kita bisa dibeli sama semua orang, meskipun harganya  mahal.  Suatu  hari,  kamu  yang  harus  membeli mbako di gudang yang tadi itu, dan langsung dilayani sama pemilik ladang mbako, ya?”


Tegar  kembali  diam,  merenungi  ucapan  Romo.  Romo seperti  mengetahui  isi  pikirannya,  lalu  menyodorkan  sebatang Djagad Raja.


’Kalau lagi mikir, paling enak sambil ngeses” Diambilnya batang  kretek  itu,  dan  dipantikkannya  api.  Gurih  sigaret Kretek  Djagad  Raja lumer di seluruh dinding mulut kecil Tegar. Sepulang dari Temanggung, Tegar sengaja membeli Kretek   999  di  warung  untuk   sekadar  membandingkan rasanya.  Rokok  cap  999  adalah  kretek  yang  saat  itu  bisa dibilang nomor satu. Kemasannya paduan antara merah dan kuning.  Kretek  itu,  kata  Romo,  sudah  ada  jauh  sebelum Djagad Raja ada. Mereka telah memulai bisnis sejak sebelum kemerdekaan,  ketika  Belanda  masih  menjejakkan  kaki  di negeri  ini.  Ketika  tahun  masih  diawali  dengan  angka  18, bukan  19. Tak heran, kerajaan Kretek 999 telah terbangun demikian besar. Mereka sering mengiklankan produknya di majalah dan koran, bergambar sigaret Kretek 999. Kadang dengan  gambar seorang  laki-laki  tengah  merokok dengan gaya  yang  gagah,  lelaki  dari   keturunan   priyayi.


Meski Djagad  Raja juga sesekali memasukkan  iklannya  di koran. Tak  besar  memang,  tetapi  cukup  untuk  memperkenalkan kretek itu ke masyarakat. Kretek Djagad Raja lebih dikenal luas  memang  karena  getbok  tular.  Tegar  bertekad,  suatu hari nanti akan memasang iklan Djagad Raja yang besar di koran dan majalah. Akan dibuatnya iklan yang berbeda dari iklan rokok lainnya, 'lak hanya itu, orang juga akan menge­ nal  Djagad  Raja  sebagai  penopang  acara-acara  seni  yang mutakhir. Orang akan tahu Djagad Raja adalah kretek nomor satu.


Romo  benar, pikir Tegar, rokok  bisa  membuat  pikiran lebih  terbuka. Asap itu  seolah-olah  membawanya  terbang ke  awang-awang  dan  mengajaknya  melihat  akan  jadi  apa kretek  Djagad  Raja kelak. Usai  isapan  terakhir. Tegar ter­ tidur hingga akhirnya tiba di Kudus. Ketika itu Romo me­ mandangi wajah Tegar yang tertidur, seperti Tegar meman­ dangi wajah Lebas saat ini yang tertidur. Ketika tidur, Lebas terlihat  tak  menyebalkan.  Dia  terlihat  seperti  anak  baik- baik yang menurut saat dinasihati orang tua. Tapi apa mau dikata,  dinasihati  Romo  pun  Lebas  tak  mempan,  apalagi Tegar  yang  cuma  kakaknya.  Tak  lama,  Lebas  mengulet, membuka matanya yang masih lengket dan menguap.Tegar menutup hidung.

[-]

’’Ditutup  kalo  nguap!  Abahmu  mambu/” omelnya. Tapi dasar Lebas, dia malah membuka mulutnya dan men­ dekatkan  ke  wajah  kakaknya  sambil  bilang,  ”Hah!” Lalu Lebas tertawa penuh kemenangan. ”Ah, sial, koirel Aku lagi nyetir!” Tawa Lebas makin keras.

’’Ngantuk, kurang tidur nih.”

”Ya gimana mau ndak kurang tidur, ivong gaya hidupmu kayak gitu. Kalau kamu terus-terusan gitu, Bas... belum tua tubuhmu bakal hancur!”
”Iva, iya... cerewet!”

Kakak-adik  itu  terdiam  sejenak.  Tiba-tiba  Tegar  mengeluarkan  pertanyaan  yang  tak  biasa.”Kamu  bikin  film lagi?” tanyanya. Lebas menatap Tegar tak percaya, mau menyinggung-nyinggung soal proyek filmnya.

”Iya!” dia berkata dengan semangat, ”tapi ini bukan film horor, ini film bakal jadi keren banget. Aku bawa kok nas­ kahnya.” Lalu Lebas mengambil tasnya di jok belakang dan mengeluarkan laptopnya yang dibawa ke mana-mana. ”Nih, ini nih naskahnya, aku sendiri yang nulis. Atau Mas Tegar mau  baca  proposalnyaPUdah  kukasih  ke Mas  Karim,  sih. Tapi di sini ada kok. Kalau mau, nanti bisa kuprint lagi buat Mas Tegar.”

’’Alah, udah, ditutup aja! Kamu buka juga aku ndak bakal bisa baca.” Tegar sok konsentrasi mengemudi. Wajah Lebas kesal, menghela napas dan mematikan kembali laptopnya.
Sejatinya, Tegar tak mau nama Kretek Djagad Raja jelek gara-gara mensponsori film jelek. Terlebih lagi, sejauh ha­ sil risetnya, mensponsori film urusannya paling jlbnet, dan uang milyaran yang keluar sering tidak jelas larinya ke mana. Sebab  banyak  celah  yang  bisa  digunakan  untuk  menilep uang itu. Tegar sudah melihat karya-karya adiknya, dan ia yakin betul belum  melihat karya yang selevel dengan seni lainnya yang sudah disponsori oleh Kretek Djagad Raja.

Meskipun Lebas adalah adik kandungnya, bagaimanapun urusan  sponsor-mensponsori  ini  adalah  bisnis.  Tegar  tak mau tak kembali modal. Jikapun tidak kembali modal, setidaknya  ia  harus yakin  bahwa  yang  disponsori  Djagad Raja  adalah  hal-hal  bergengsi,  yang  mampu  menaikkan nama  baik Kretek  Djagad  Raja. Ini  bukan  sekadar urusan memberi dukungan material untuk adik tercinta, tetapi ini adalah the a il o fpublic relations, itu yang tidak dipahami oleh Lebas.

Keduanya  diam  sejenak.  Tegar  tahu,  Lebas  kesal. Tak lama, Tegar memecah kesunyian di antara mereka, ”Aku su­ dah tanya Ibu soal Jeng Yah.”
Lebas kaget, ”Hah? Serius?!”

”Ya iya... serius. Makanya aku nyusul kamu, habis kamu kutelepon-telepon ndak ngangkat juga. Tadinya cuma mau kuceritakan lewat telepon saja.”
’Terus?”

"Kamu tahu bekas luka di jidat Romo itu?”

”Iya, kenapa?”

”Inget kan Romo cerita apa soal bekas luka itu?”

"Romo berantem  sama orang waktu masih  muda, kalo enggak salah.”
”N ah...  itu  luka  bukan  sembarang  luka.  Orang  yang

mukul pake semprong petromaks ke jidat Romo itu, ya Jeng Yah.”

”Hah?!”

”Iya, dan... Jeng Yah mukul semprong itu sewaktu hari pernikahan Romo dan Ibu.”
’HAAAH...?!” Lebas melotot tak percaya. Tegar manggut-manggut,  bangga  berhasil  mengungkap  cerita  seperti itu dari Ibu.
’Dipukul setelah ijab qabul. Beruntung ya? Kalo sebelum ijab pasti Romo keliatan jelek banget deh di foto.”

’’Pantes  aja  Ibu  murka  sama  yang  namanya Jeng  Yah.

Tapi sudah dipukul pake semprong pas hari pernikahan kok masih saja Romo mau ketemu Jeng Yah?” Lebas penasaran.
’’Mungkin Romo punya utang.”

’’Utang apa?”

’Mana kutahu. Makanya, kita cari Jeng Yah itu, biar tahu kenapa Romo masih mau ketemu sama dia.”
Mereka berdua terdiam selajunya roda mobil terus berputar. Sama-sama membayangkan semurka apa seorang pe­ rempuan  hingga  ia  berani  datang  ke  pernikahan  seorang laki-laki pada hari pernikahannya. Lantas dengan nekad, di depan  semua  orang,  diambilnya  batang  semprong  petromaks, lalu dipukulkan ke kepala mempelai pria!
Serial
Konten Islami
Media dakwah digital yang menyajikan artikel Islam, Al-Qur’an, Hadits, doa, fiqih, dan sejarah Islam berdasarkan sumber yang sahih.
Post a Comment
Search
Menu
Theme
Share
Additional JS